Kamis, 13 Desember 2007

LJRI #1

Salah satu kenangan yang tidak mungkin dilupakan oleh kami adalah kenangan bersama LJRI (Loro Jonggrang Research Institute). Bersama LJRI, 3 bulan lamanya kami menjalani penelitian pertama kami.

Selama 3 bulan tsb, kami berdua dan rekan-rekan lainnya sehari-hari bekerja dan tinggal di Marsini. Hari-hari penuh kerja keras, tapi sangat penuh kenangan bersama rekan-rekan yang sangat menyenangkan. Momen ini merupakan salah satu momen perekat kami berdua.

Masih melekat di memori, pertama kalinya abi pergi ke Bandung (tempat ortu umi) dan akhirnya mengutarakan maksud untuk serius menikahi umi adalah setelah pertemuan konsinyering pertama dengan DESDM di Menara Peninsula. Dengan doa dan dukungan dari rekan-rekan LJRI, alhamdulillah ketika itu semua berjalan lancar.

Oleh karenanya dalam galeri ini, keceriaan penuh warna bersama LJRI akan terus melekat pada salah satu halaman dari blog ini:

All LJRI-ers

Dari kiri ke kanan (atas): Luthfi, Pakasa, Abi, Toni, Fajar, Chaikal. (bawah): Lona, Umi, Celly

LJRI's MaFioso

Para cowok-cowok LJRI bergaya layaknya mafia dengan Don Chaikaleno sebagai Godfathernya

The Ladies

Cewek-cewek LJRI yang tangguh

Pertanyaannya: Bagaimana LJRI sekarang??? ... Tunggu saja beberapa tahun lagi "Kebangkitan LJRI" !!!


Selasa, 11 Desember 2007

Wisuda FEUI, 2 September 2006: Pertemuan Pertama dengan Keluarga

Kami berdua lulus bersamaan dari FEUI pada pertengahan 2006. Dan kami pun diwisuda bersamaan, yakni pada tanggal 2 September 2006. Alhamdulillah, kami berdua mampu lulus tepat waktu, 4 tahun, meski harus bersusah payah untuk mencapainya. Alhamdulillah juga, abi mampu meraih prestasi tersendiri sebagai salah satu lulusan dengan predikat cum laude. Umi juga mampu lulus dengan indeks prestasi yang di atas rata-rata.

Kebahagiaan akan kelulusan bertambah mengingat di momen inilah, masing-masing dari kami saling memperkenalkan pada orang tua. Meski hanya sebentar, tetapi momen tersebut berbekas dengan jelas dalam memori kami.

Jadi, selain tercatat sebagai momen bahagia atas kelulusan kami, tanggal 2 September 2006, merupakan momen yang akan kami ingat sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan kami.

Oleh karenanya, kami ingin berbagi kebahagiaan tersebut melalui sebuah galeri potret momen indah, momen wisuda abi dan umi:

Abi Bersama Keluarga


Dari kiri ke kanan: Bapak Abi, Ibu Abi, Kakak Abi, Abi, Nenek Abi, Bu Dhe Abi, Tante Abi


Umi Bersama Keluarga

Dari kiri ke kanan (atas): kakak ipar kedua umi, ponakan kedua umi, papa umi, adik umi, mama umi, kakak ipar pertama umi, ponakan pertama umi. (bawah): kakak kedua umi, kakak pertama umi


Abi, Bapak, dan Umi


The Pre-Beginning #1

Setelah sudah lama blog ini tidak di-update karena kesibukan kami, kami kira ini waktu yang tepat untuk kembali meng-updatenya lagi.

Tidak terasa telah 1 tahun dan 6 bulan, perjalanan ini telah berlangsung. Tidak terasa pula, kira-kira 3 bulan lagi perjalanan ini akan mencapai salah satu puncak siklus petualangan yang akan kami jalani. Yup!!! 3 bulan lagi… kami akan memasuki fase pernikahan.

Menjelang 3 bulan tersebut, masih banyak yang ingin kami bagi dalam perjalanan yang kami tempuh hingga sampai di titik ini. Di posting kali ini, kami akan berbagi cerita tentang masa sebelum perjalanan ini dimulai. Dan cerita ini akan terbagi menjadi beberapa seri yang penuh dengan kejutan di setiap kisahnya. Sebuah cerita yang mungkin bisa menjadi sebuah referensi tambahan bagi seorang petualang cinta.

The Story That Started This All

Sebelum akhirnya kami berdua memulai perjalanan cinta kami, ada sebuah kisah sangat penting yang mendahuluinya. Sebuah kisah yang akan kekal dan menjadi memori indah dalam ingatan kami berdua. Sebuah kisah yang bercerita tentang kebodohan karena cinta, perjuangan akan cinta, hingga tercapainya sebuah equilibrium karena indahnya cinta…

Kami akan menceritakan sebuah cerita yang sebenarnya mengawali warna-warni yang ada dalam perjalanan kami. Bahkan mungkin cerita yang penuh dengan warna-warna kontras, abstrak, tidak teratur goresannya, tetapi akhirnya membentuk sebuah harmoni tak terkira.

Cerita ini bermula sekitar satu sampe setengah bulan sebelum tanggal 9 Juni 2006 (tanggal apakah ini? Lihat posting kami sebelumnya). Alkisah ada seorang pria yang sedang jatuh hati pada seorang wanita yang ia lihat sebagai sosok impiannya sebagai istri bagi dirinya dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Sudah setahun mereka berinteraksi, dan di akhir masa interaksi mereka tersebut barulah si pria sadar akan hal itu. “Wanita inilah yang harus menjadi pasangan pendamping hidupku!!” tekadnya ketika itu. Namun, mengingat berbagai kondisi yang ada, si pria memutuskan untuk menahan dulu keinginan untuk segera menyampaikan perasaan itu pada sosok wanita impiannya.

Semua berjalan baik, hubungan antara pria dan wanita begitu dekat, hingga di suatu ketika, karena adanya faktor eksternal, kondisinya berubah dengan drastis. Sosok wanita impian tersebut dengan terpaksa menjauh dari sang pria, meski mungkin dalam hatinya, wanita tersebut tidak menginginkan untuk melakukan itu. Tapi memang, melihat kondisi yang ada, wajar bila sosok wanita impian tersebut menjauh. Faktor eksternal yang ada menempatkan dirinya pada sebuah posisi yang sangat sulit. Dan itu juga karena si pria yang agak sedikit tidak bisa memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada.

Dengan kondisi yang berubah drastis tersebut, sang pria pun galau. Berbagai cara dia lakukan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Bahkan dalam suatu momen, layaknya di film-film India, hanya untuk berbicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pria tersebut harus berlari mengejar sosok wanita impiannya yang terus menolak, bahkan untuk sekadar bersua. Hingga akhirnya, setelah berhasil mengejar, untuk pertama kalinya pria tersebut dengan nekat menyatakan perasaannya pada wanita impiannya. “Iya, aku suka kamu.. Apa ada yang salah dengan itu..??? Faktor eksternal tidak ada hubungannya dengan ini…!!!” sebutnya. Sayangnya aksi dramatis tersebut malah menjadi kebodohan pertama dari sang pria. Aksinya tersebut malah semakin membuat sosok wanitanya dalam posisi sulit. Dia malah semakin merasa, bahwa faktor eksternal yang muncul, adalah benar adanya.

Akhirnya, bukan kedekatan yang didapat… kedua insan ini semakin menjauh. Sang wanita semakin menutup dirinya. Dan sang pria pun memutuskan untuk memberikan kesempatan pada wanita impiannya untuk menenangkan diri…

Akankah akhirnya mereka akan bersatu…??? Bahkan penjudi paling jago pun mungkin tidak akan berani betaruh untuk itu… Lalu bagaimana akhirnya kisah tersebut berlangsung…??? Ketika itu, tidak ada yang berani memastikan bagaimana kisah ini akan berlanjut...

(to be continued…)

Jumat, 19 Oktober 2007

Cerita di Balik 09-06-2006

Yup!! Tanggal 9 bulan 6 tahun 2006 di Pulau Dewata. Momen inilah yang kami berdua 'tetapkan' sebagai awal dari perjalanan penuh warna ini. Sebuah momen yang merupakan salah satu langkah awal dari rangkaian cerita, kejadian, dan peristiwa yang lebih besar, yang lebih indah, dan pastinya lebih heboh.

Dengan mengucapkan "maukah kau menjadi calon istriku?" semua berawal... (bagian ini boong ding... hehehe).

Sejujurnya tidak pernah ada kata eksplisit dari kami untuk jadian. Artinya, kami juga tidak punya tanggal jadian. Walau begitu, hubungan kami tetap berjalan indah tanpa adanya tanggal jadian. Semua berjalan aman dan tentram, meski khalayak ramai dan media pers mendesak kami segera mengumumkan tanggal jadian. Karena kami tidak punya, ya kami pun bungkam seribu bahasa. Jurus "sorry, no comment.. no comment" dikeluarkan berkali-kali.

Namun pada suatu waktu, karena khalayak ramai dan media pers terus menerus bertanya "kapan si jadiannya?" dan mendesak adanya sebuah jawaban, kami berdua pun tidak kuasa untuk tidak memberikan jawaban. Setelah berdiskusi panjang, menimbang berbagai kemungkinan tanggal, kami sepakat menetapkan tanggal 9 Juni 2006 sebagai tanggal jadian. Sejak saat itu, tidak ada bedanya dengan pasangan lain, di tiap bulan, tanggal 9 merupakan momen istimewa bagi kami. Adanya tanggal jadian memberikan warna indah lain dalam hubungan kami.

Lalu kenapa tanggal 9 Juni 2006?

Bila dirunut-runut, memang semua berawal ketika Senat Mahasiswa FEUI 2005/2006 mengadakan perjalanan ke Pulau Dewata, pada 9 Juni 2006. Selain kemeriahan dan kegembiraan acara pembubaran Senat Mahasiswa, kedekatan kami berdua semakin terjalin karena intensnya kami bersama, mengurus kegiatan tersebut sebagai SC (steering committe).

Mengacu pada kondisi itu, kami berpikir tentu akan sangat tepat bila momen itu dijadikan tanggal jadian. Selain itu, kalau jadiannya di Pulau Bali kan keliatan keren gitu. hehehe.. Kami juga jadi bisa pake lagu Kuta Bali-nya Andre Hehanusa jadi OST. Sekaligus jadi perekat berdua.

Kuta Bali
Sejak saat itu
hatiku tak mampu
membayangkan rasa diantara kita
di pasir putih
kau genggam erat tanganku
menatap mentari yang tenggelam

Semua berlalu dibalik khayalku
Kenangan yang indah berdua denganmu
di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku
di Kuta Bali cinta kita ...

Bersemi dan tetap akan bersemi
Mewangi dan tetap akan mewangi
Bersama dirimu, walau kini tlah jauh (Depok – Pos Pengumben lumayan jauh loh)
Kasih..suatu saat di Kuta Bali (09-06-2006)

Kereenn kan... Kalau diidentikkan dengan warna, berkat pemilihan tanggal yang tepat, momen jadian kami jadi penuh warna-warna gejreenngg...!!!

Kamis, 18 Oktober 2007

The Beginning


Akhirnya setelah beberapa bulan berniat membuat sebuah blog, hari ini tanggal 17 Oktober jadi juga ni blog.

Blog ini mengambil nama The Color of Love, untuk menceritakan berbagai warna perjalanan yang telah kami arungi kurang lebih selama 1 tahun 4 bulan dan ke depannya nanti. Perjalanan yang penuh dengan warna merah, kuning, hijau, hijau muda, coklat, merah muda, dan berbagai warna lainnya.

Dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, kami ingin menambah warna dari perjalanan cinta ini dengan memulai sebuah blog. Sebuah blog yang diawali dengan senyuman kami berdua.